Monday, 2 March 2009

Data Mining

Data Mining (DM) adalah salah satu bidang yang berkembang pesat karena besarnya kebutuhan akan nilai tambah dari database skala besar yang makin banyak terakumulasi sejalan dengan pertumbuhan teknologi informasi. Definisi umum dari DM itu sendiri adalah serangkaian proses untuk menggali nilai tambah berupa pengetahuan yang selama ini tidak diketahui secara manual dari suatu kumpulan data. Perkembangan data mining(DM) yang pesat tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan data dalam jumlah besar terakumulasi. Sebagai contoh, toko swalayan merekam setiap penjualan barang dengan memakai alat POS(point of sales). Database data penjualan tsb bisa mencapai beberapa GB setiap harinya untuk sebuah
jaringan toko swalayan berskala nasional. Perkembangan internet juga punya andil cukup besar dalam akumulasi data.

Tetapi pertumbuhan yang pesat dari akumulasi data itu telah menciptakan kondisi yang sering disebut sebagai “rich of data but poor of information” karena data yang terkumpul itu tidak dapat digunakan untuk aplikasi yang berguna. Tidak jarang kumpulan data itu dibiarkan begitu saja seakan-akan “kuburan data” (data tombs). DM adalah serangkaian proses untuk menggali nilai tambah dari suatu kumpulan data berupa pengetahuan yang selama ini tidak diketahui secara manual. Patut diingat bahwa kata mining sendiri berarti usaha untuk mendapatkan sedikit barang berharga dari sejumlah besar material dasar. Karena itu DM sebenarnya memiliki akar yang panjang dari bidang ilmu seperti kecerdasan buatan (artificial intelligent), machine learning, statistik dan database. Beberapa teknik yang sering disebut-sebut dalam literatur DM antara lain : clustering, classification, association rule mining, neural network, genetic algorithm dan lain-lain. Yang membedakan persepsi terhadap DM adalah perkembangan teknik-teknik DM untuk aplikasi pada database skala besar. Sebelum populernya DM, teknik-teknik tersebut hanya dapat dipakai untuk data skala kecil saja.

Karena DM adalah suatu rangkaian proses, DM dapat dibagi menjadi beberapa tahap yaitu :

1. Pembersihan data (untuk membuang data yang tidak konsisten dan noise)
2. Integrasi data (penggabungan data dari beberapa sumber)
3. Transformasi data (data diubah menjadi bentuk yang sesuai untuk di-mining)
4. Aplikasi teknik DM
5. Evaluasi pola yang ditemukan (untuk menemukan yang menarik/bernilai)
6. Presentasi pengetahuan (dengan teknik visualisasi)

Dengan definisi DM yang luas, ada banyak jenis teknik analisa yang dapat digolongkan dalam DM. Saya akan memberikan sedikit gambaran tentang tiga teknik DM yang paling populer.

Association Rule Mining
Association rule mining adalah teknik mining untuk menemukan aturan assosiatif antara suatu kombinasi item. Contoh dari aturan assosiatif dari analisa pembelian di suatu pasar swalayan adalah bisa diketahui berapa besar kemungkinan seorang pelanggan membeli roti bersamaan dengan susu. Dengan pengetahuan tsb. pemilik pasar swalayan dapat mengatur penempatan barangnya atau merancang kampanye pemasaran dengan memakai kupon diskon untuk kombinasi barang tertentu. Algoritma yang paling populer dikenal sebagai Apriori dengan paradigma generate and test, yaitu pembuatan kandidat kombinasi item yang mungkin berdasar aturan tertentu lalu diuji apakah kombinasi item tsb memenuhi syarat support minimum.

Classification
Classification adalah proses untuk menemukan model atau fungsi yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk dapat memperkirakan kelas dari suatu objek yang labelnya tidak diketahui. Model itu sendiri bisa berupa aturan “jika-maka”, berupa decision tree, formula matematis atau neural network. Decision tree adalah salah satu metode classification yang paling populer karena mudah untuk diinterpretasi oleh manusia.Proses classification biasanya dibagi menjadi dua fase : learning dan test. Pada fase learning, sebagian data yang telah diketahui kelas datanya diumpankan untuk membentuk model perkiraan. Kemudian pada fase test model yang sudah terbentuk diuji dengan sebagian data lainnya untuk mengetahui akurasi dari model tsb. Bila akurasinya mencukupi model ini dapat dipakai untuk prediksi kelas data yang belum diketahui.

Clustering
Berbeda dengan association rule mining dan classification dimana kelas data telah ditentukan sebelumnya, clustering melakukan penge-lompokan data tanpa berdasarkan kelas data tertentu. Bahkan clustering dapat dipakai untuk memberikan label pada kelas data yang belum diketahui itu. Karena itu clustering sering digolongkan sebagai metode unsupervised learning. Prinsip dari clustering adalah memaksimalkan kesamaan antar anggota satu kelas dan meminimumkan kesamaan antar kelas/cluster. Clustering dapat dilakukan pada data yang memiliki beberapa atribut yang dipetakan sebagai ruang multidimensi.

Sumber : Iko Pramudiono. iko@tkl.iis.u-tokyo.ac.jp




Baca Selengkapnya....

Sistem Manajemen

Sebenarnya sistem dan manajemen tipe apa sih yang cocok buat perusahaan kita? Pertanyaan ini selalu timbul dalam benak para pengambil keputusan. Untuk menjawabnya, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menilai mana yang lebih baik melainkan sekedar refreshing dan berbagi sambil mengingat apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Pada awal 80-an muncul istilah TQC (Total Quality Control) yang dengan cepat diadaptasi oleh beberapa perusahaan di Indonesia. Salah satunya adalah Astra. Meskipun QC/TQC ini adalah konsep yang datangnya dari Amerika dan dipelopori oleh Deming, tetapi justru Jepang yang menyerap dan menerapkan dalam beberapa perusahaannya terutama pada perusahaan otomotif disana.

Di Astra, TQC menjadi ATQC dengan tambahan Astra di depannya. Prinsipnya sih sama aja, tetap PDCA (Plan-Do-Check-Action). ATQC menjadi sebuah sistem yang bekerja dengan sangat baik bila diterapkan untuk
suatu pekerjaan yang measurable, misal di engineering, technical, delivery..tapi sangat susah diterapkan pada pekerjaan yang banyak ditentukan oleh faktor luar seperti finance dan accounting. Terlihat dari hasil konvensi TQC, dimana team technical selalu menjadi juara. Sistem ini cocok diterapkan untuk kelompok kerja kecil, dan sebagai kelanjutan dari TQC adalah Kaizen. Seiring berjalannya waktu, gema TQC seakan surut. Awal tahun 90-an muncul BPR (Business Process Re-engineering), proses end-to-end. Prinsipnya adalah semua dilihat dari flow proses awal sampai akhir kemudian dilakukan penyederhanaan di tiap proses yang terjadi. Sebagai penunjang, dibuat form dan rule baru jika dirasa perlu untuk dilakukan. Di dalam perkembangannya seringkali setiap bagian membuat aturan sendiri sesuai kondisi da situasinya. Pada akhirnya hal ini aka semakin membuat ruwet suatu alur proses yang sudah terbentuk. Menurut penelitian, kurang dari 10% perusahaan yang menerapkan BPR bisa berhasil, itupun masih diragukan ke-efektifitasannya sehingga lenyaplah BPR ditelan jaman.

Balanced Scorecard pun berkibar untuk menjadi sistem yang digunakan manajemen dengan melihat Business Strategy, Internal maupun External faktor, Organization dan Technology/Structure dengan melihat hubungan tiap bagian dan memasang bobot yang berkaitan disertai target tertentu. Hal yang perlu diwapadai adalah faktor PEST (Politic,Economy,Sosial,Technology) yang sangat sulit dikendalikan di negeri ini. Sedangkan untuk menentukan bobot, datanya susah dicari terutama data dari market, maklum untuk mencari data market, orang Indonesia cenderung memanipulasi daripada repot. Pada akhirnya SWOT analysis analysis merupakan solusi efektif dan efisien. Setelah itu, muncul Six Sigma dengan cara yang sedikit ekstrim dengan hanya mengijinkan beberapa kesalahan dari sekian juta proses. Bagi perusahaan yang ingin menerapkannya, harus memberikan training yang begitu padat dan memusingkan, selain itu untuk mendapatkan sertifikatnya saja butuh investment yang sangat besar. Tapi banyak perusahaan berbondong-bondong ingin menerapkan sistem ini karena melihat kisah sukses Motorola dan GE yang cepat melesat dengan mengembangkan sistem ini.

Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di industri pertambangan, Pama juga selalu berusaha melakukan improvement di sistem manajemennya untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Bahkan hampir semua sistem manajemen diatas sudah dicoba diterapkan. Tetapi pada akhirnya Pama harus dapat menemukan caranya sendiri, yang paling sesuai dengan situasi dan kondisinya. Mengembangkan sesuatu yang benar-benar menjadi ciri khas Pama dan tidak dipunyai oleh perusahaan lain.

Baca Selengkapnya....

Friday, 20 February 2009

Atlantis ditemukan Google Earth!

Atlantis merupakan kota hilang yang paling terkenal dan paling diburu sepanjang sejarah. Cerita Plato mengenai Atlantis sebagai sebuah kota yang hilang ke dasar laut, hingga kini rupanya tetap menjadi cerita yang menarik untuk diselidiki. Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak orang yang mulai berlomba-lomba menguak misteri hilangnya Atlantis yang diperkirakan tenggelam ke dasar laut akibat letusan gunung dan gempa bumi di Samudera Atlantik. Mulai dari penerapan teknologi sonar hingga satelit pun dilibatkan dalam pencarian sisa kota Atlantis yang disebut Plato sebagai kota dengan kebudayaan tinggi dari masa lalu ini.

Salah satu upaya pencarian yang menghebohkan baru-baru ini dilakukan oleh seorang Inggris mempergunakan Google Earth.Seperti yang dilansir tabloid 'The Sun', dengan mempergunakan Google Earth, seorang warga mengklaim telah menemukan
bukti-bukti yang menarik tentang keberadaan sisa-sisa kota Atlantis di dasar laut. Bukti yang dia maksudkan adalah deretan garis-garis yang menurut perkiraan adalah sisa-sisa tembok yang bersaling-silang seukuran Inggris. Menurutnya, sangat tidak mungkin jika deretan 'garis-garis' pada 3,5 mil dibawah permukaan. Samudra Atlantik tersebut hanyalah sebuah kebetulan dari alam. Karena makhluk secerdas apapun selain manusia, tidak mungkin begitu saja membuat deretan 'garis-garis' tembok seperti itu di dasar laut. Titik penemuan tersebut muncul di sepanjang 620 mil barat Maroko di dekat kepulauan Canary. Hal ini sangat mirip dengan gambaran Plato dalam tulisannya mengenai Atlantis, sebuah kota dengan peradaban tinggi yang lenyap ke dalam
laut karena gempa yang dahsyat pada tahun 9700 SM.

Selama ini banyak ahli berpendapat Atlantis berada di sekitar Samudera Atlantik, dengan bentangan kemungkinan mulai dari 'Segitiga Bermuda' hingga Laut Mediterania di dekat Yunani dan Italia. Klaim terhadap penemuan Atlantis menggunakan Google Earth ini sebenarnya bukan untuk pertama kalinya, tercatat telah banyak ilmuwan dan arkeolog yang melakukan studi pencarian situs Atlantis selama ini. Salah satunya adalah Robert Sarmast. Robert Sarmast mengatakan sonar yang dipakai menyisir dasar laut 80 kilometer tenggara Cyprus telah menandai adanya dinding-dinding buatan manusia, salah satunya sepanjang 3 kilometer, dan parit-parit pada kedalaman 1.500 meter.

Menanggapi penemuan tersebut, pihak Google memberikan pernyataan, "Memang benar sejak diluncurkannya Google Earth, banyak tempat-tempat mengagumkan yang selama ini tersembunyi, berhasil ditemukan. Diantaranya adalah penemuan sebuah hutan di Mozambik berisi berbagai spesies yang belum diketahui jenisnya, juga penemuan terumbu karang di pantai Australia dan sisa peninggalan sebuah villa Romawi kuno". Namun mengenai penemuan Atlantis ini, pihak Google menyatakan bahwa yang terlihat tersebut merupakan Bathymetric (seafloor terrain) data yang dikumpulkan dari kapal yang sering menggunakan sonar untuk mengambil pengukuran yang kedalaman laut. Jadi baris tersebut yang mencerminkan jalan perahu karena mengumpulkan data," ujar Google.

Sumber : http://www.beritanet.com/

Baca Selengkapnya....

Thursday, 19 February 2009

Mengatasi Rasa Takut Berbicara di Depan Publik

Apa yang Anda rasakan sesaat sebelum tampil melakukan presentasi di depan umum? Apakah telapak tangan Anda berkeringat, kerongkongan kering dan tercekat, wajah memerah, suara bergetar, jantung berdebar, dan perut mulas? Penderitaan semacam ini tak hanya Anda alami saat berbicara di hadapan ratusan orang yang tidak Anda kenal, tetapi juga saat rapat bersama rekan-rekan Anda sendiri. Pada saat itu, Anda sebenarnya sedang mengalami sindrom tidak percaya diri. Penyebabnya, entah karena Anda memang tidak terbiasa berbicara di depan umum, atau tidak siap tampil. Hal ini tak hanya dialami oleh Anda yang baru pertama kali menjadi pembicara. Bahkan orang yang sudah sering tampil sebagai public speaker pun masih sering mengalaminya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bisa karena belum mempersiapkan diri dengan
materi, bisa pula karena tidak tahu siapa hadirin yang dihadapi.

Membangun kepercayaan diri

Menurut Alexander Sriewijono, psikolog yang juga pendiri TALK-inc, School for TV Presenter-MC, seorang pembicara yang sukses selalu tahu cara membangkitkan kepercayaan dalam dirinya, sebaik ia tahu cara membawakan pidato atau presentasinya. Apalah artinya kata-kata yang hebat apabila tidak disertai keyakinan pada saat menyampaikannya. Untuk membangun kepercayaan diri, ada tiga strategi yang dapat dilakukan:

1. Mengembangkan sikap matang, yang terdiri atas tiga hal:

a. Kecerdasan emosional, yaitu kemampuan untuk mengendalikan emosi dan rasa takut yang muncul dalam dirinya, dan menjadikan emosi itu sebagai pemacu untuk bertindak sesuai tujuan yang ingin dicapai.
b. Tampilkan kematangan usia, sehingga Anda dapat menyampaikan gagasan dan perasaannya secara dewasa, asertif, dan profesional. Artinya, Anda tidak berbicara seperti remaja, menggunakan gaya bahasa remaja (kecuali saat berbicara di forum remaja), atau berpikir dangkal seperti remaja yang belum mampu berpikir kritis.
c. Membangun gambaran yang positif terhadap diri sendiri. Penilaian orang lain terhadap diri kita (impression) sering mempengaruhi penilaian kita tentang diri sendiri (self-image). Penilaian yang buruk membuat kita jadi rendah diri. Bagi orang yang memiliki penghargaan diri (self-esteem) yang rendah, penilaian orang lain terhadap dirinya membuat ia menjadi terpuruk. Inilah mengapa kita cemas atau takut tidak tampil bagus, takut ditertawakan, takut salah, dan seterusnya.

2. Kendalikan penghambat kepercayaan diri Anda, yang umumnya ada tiga hal:

a. Cara berpikir negatif terhadap diri sendiri, seperti perasaan tidak siap tampil di depan umum, tidak menguasai topik, takut dikritik, takut presentasinya akan mengecewakan, tidak tahu apa yang harus disampaikan, dan lain-lain. Jelas bukan hadirin yang membuat Anda tidak percaya diri, melainkan pikiran negatif Anda sendiri.
b. Nyatakan perasaan atau pikiran Anda dengan lebih spesifik, apakah sedih, takut, kecewa, kesepian, dan sebagainya; bukannya "saya merasa kacau". Ketika mengekspresikan perasaan marah, jelaskan dulu perilaku spesifik yang tidak Anda sukai, lalu perasaan Anda sendiri. Atau bila ada perasaan ganda mengenai sesuatu, sampaikan dengan jelas. Misalnya, "Saya punya perasaan ganda tentang apa yang baru Anda lakukan. Saya senang dan berterima kasih Anda telah membantu saya menjelaskan masalah, tapi saya tidak suka diinterupsi ketika belum selesai berbicara." Penggunaan kata "Saya" atau "Saya merasa" akan membantu Anda mengekspresikan perasaan yang sulit tanpa menyerang harga diri lawan bicara.
c. Cara Anda menempatkan diri yang terlalu rendah atau terlalu tinggi di hadapan orang lain. Pembicara yang memandang dirinya lebih dari orang lain tidak dapat menciptakan atmosfer yang positif dalam suatu presentasi. Ia berbicara terus-menerus, mendominasi percakapan, dan tidak memberikan kesempatan pada hadirin untuk mengungkapkan gagasan, sehingga komunikasi berlangsung satu arah. Sebaiknya, pembicara yang merasa dirinya lebih rendah daripada hadirin cenderung tidak tegas ketika menyampaikan suatu pesan yang harus diwujudkan dalam tindakan. Ia membiarkan hadirin mendebat argumentasinya tanpa hasrat kuat untuk mempertahankannya. Ketika hadirin asyik berbicara sendiri, ia tidak berani memperingatkannya.

3. Atasi rasa takut Anda. Anda bisa membiarkan rasa takut menguasai pikiran, atau justru menggunakannya untuk membuat latihan berbicara yang maksimal. Ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan sebelum menyampaikan presentasi:

* Atur nafas sampai merasa tenang.
* Buat jeda beberapa saat sebelum memulai pidato.
* Yakini bahwa tanda-tanda kecemasan fisik itu tak terlihat.
* Jangan biarkan hadiri mengetahui kegugupan Anda, apalagi meminta maaf
untuknya.

* Buatlah persiapan matang sebelum tampil.
* Terimalah ketidaksempurnaan.
* Jangan terbebani oleh penampilan, fokuslah pada komunikasi.
* Jangan membebani pikiran dengan berusaha menghafal isi pidato.
* Gunakan alat-alat bantu untuk mengalihkan kecemasan.
* Bayangkan diri Anda tengah memberikan pidato yang bagus dan kuat.

Sumber : Buku TALK-inc.

Baca Selengkapnya....

Perubahan

“Change is the only evidence of life”, kata esayist Evelyn Waugh. Benar sekali, perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan. Jadi perubahan mustinya adalah hal yang biasa bagi manusia. Hanya saja, kita seringkali tidak menyadari sesuatu telah berubah, bahkan mendiamkannya, alias tidak meresponsnya sama sekali. Banyak orang yang menghadapi perubahan dengan menyangkal masa depan. Mereka beranggapan cuma cara merekalah yang benar, dan yang lain salah. Success history mendistorsi peta yang mereka baca. Orang-orang ini membiarkan dirinya buta terhadap masa depan. Kata Black dan Gregersen, suatu ketika orang-orang ini akan menjadi fanatik dan beranggapan apa yang diketahuinya sebagai segala-galanya, dan apa yang tidak diketahuinya sebagai nothing. Maka habislah masa depan.

Manusia pada dasarnya bisa menerima perubahan sekalipun kecepatan menerima setiap orang berbeda-beda. Yang terjadi sesungguhnya, manusia itu enggan “dirubah”, bukan enggan “berubah”. Dalam konteks manajemen perubahan, seorang pemimpin harus bertindak tak ubahnya sebagai
seorang seniman profesional, yang menggunakan bel perubahan seakan-akan bukan berasal dari dirinya, melainkan dari orang-orang yang akan mengerjakan perubahan itu sendiri. Bel ini disebut “a wake up call”, yaitu bel yang membangunkan yang kita set sendiri, yang begitu berbunyi membuat kita kesal, namun juga berterimakasih. Kita bangkit dari tidur sekalipun malas dan kantuk masih melekat. Sebagian besar kita beranggapan perubahan itu baru boleh dilakukan kalau ada masalah, saat memasuki tahap krisis. Padahal, pada saat krisis hampir tidak mungkin, atau mustahil melakukan perubahan.

Perubahan pada saat sedang berada di titik
rendah sangat rawan. Sebab pada saat itu, anda sudah tak punya energy dan resources sama sekali untuk mengangkatnya kembali: Tidak ada kepercayaan, manajer-manajer yang handal pergi, cash flow defisit, produk unggulan tidak ada, dan seterusnya. Bahkan yang ada adalah konflik, demo karyawan, hutang dan tuntutan-tuntutan hukum. Beranjak dari itu, para ahli manajemen mulai melihat strategi perubahan terbaik seharusnya dilakukan pada saat anda sedang mengalami masa “senang-senang”. Yaitu saat penjualan anda sedang bagus dan semua orang bangga terhadap lembaganya. Tapi celakanya, justru pada saat ini manusia-manusia itu tidak tertarik untuk berubah. Mereka mengatakan, “Kalau tidak ada yang rusak, mengapa harus dirubah”. Tetapi anda harus dengan berani mengatakan, “Kalau tidak segera diperbaiki ini akan rusak!” Perubahan pada tahap ini kita sebut transformasi, yaitu pembenahan manajemen untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : Apa yang dapat kita lakukan agar menjadi lebih baik lagi? Apa saja kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat? Inilah seni strategi perubahan. Anda bekerja dengan paradox, yaitu paradox of change, yang kurang lebih artinya begini. ”Pada saat perubahan harus dilakukan, orang-orang merasa tak ada kebutuhan sama sekali, sebaliknya, pada saat anda dituntut untuk berubah, anda sudah tak punya daya sama sekali.”

Tapi bagaimana dengan orang-orang yang mau berubah? Maukah mereka memasuki sesuatu yang baru dengan gagah berani? Nanti dulu, bukankah memasuki medan baru selalu ada resikonya. Pertanyaannya adalah, bila kita memasuki “the right track” apakah kita langsung bisa perform dengan baik? Tentu saja tidak. Setiap permulaan pasti sulit dan akan banyak ditemui kendala-kendalanya. Tetapi dengan kekonsistenan dan berani mencoba yang baru, dan terus memperbaiki diri, lama kelamaan akan perform juga yaitu melakukan “the right thing dan done it very well”. Itulah sebabnya diperlukan keberanian, konsep yang jelas dan cara kerja yang efisien. Tentu saja tidak semua perubahan seperti ini berakhir dengan sukses. Adakalanya Anda dipaksa merubah sesuatu yang sifatnya sangat mendasar dan tak ada cara lain selain melakukannya dengan penuh pengorbanan. Kata orang-orang Korea, kalau tak ada yang mau berkorban tak akan ada perubahan. Tetapi ini masih belum cukup. Dibutuhkan semacam karakter untuk memimpin perubahan. Karakter itu sering disebut-sebut sebagai “Lincoln type”, yaitu kejujuran, rendah hati, cinta kasih, disiplin diri, dan keberanian yang teguh dalam menghadapi fakta-fakta brutal yang bisa merusak kehidupan. King dan Gandhi disebut-sebut memiliki karakter itu.

Perubahan tidak akan mungkin dilakukan dengan hanya merubah sistem tanpa memperhatikan kesiapan manusia-manusianya. Saya berkeyakinan manusia sesungguhnya bukan enggan berubah, melainkan perlu menyadari perubahan itu justru menjadi tuntutan bagi dirinya. Bagaimana tahapan perubahan manusia, perhatikan bait-bait pada puisi ini.

When you change your thinking (pikiran)
You change your beliefs (keyakinan diri)
When you change your beliefs
You change your expectations (harapan)
When you change your expectations
You change your attitude (sikap)
When you change your attitude (sikap)
You change your behavior (tingkah laku)
When you change your behavior
You change your performance (kinerja)
When you change your performance
You change your destiny (nasib)
When you change your destiny
You change your life (hidup)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka”

sumber: http://benbego.com & http://benshared.com


Baca Selengkapnya....

Sunday, 8 February 2009

Uang

Menjelang pemilihan umum seperti sekarang ini, kita banyak disuguhi pemandangan atribut dan bendera partai politik serta foto-foto caleg berukuran besar yang tersebar hampir di seluruh ruang publik seperti jalan raya, pasar, terminal bahkan universitas. Ada yang tersenyum hangat, senyum palsu dan senyum licik. Terkadang, angkot, bus dan becak pun tak luput dari “media” iklan tersebut. Dan yang membuatku semakin takjub, beberapa hari yang lalu aku melihat ada lambang sebuah partai politik beserta caleg-nya nempel di box tukang sol sepatu keliling. WTF!

Caleg pun semakin kreatif, ada yang bila fotonya dipasang di pondok pesantren maka dia berpakaian santun. Memakai gamis dan peci. Apabila di daerah agraris maka dia berfoto dengan celana pendek, memakai caping dan membawa pacul. Apabila di lingkungan pegawai pemerintahan, dia memakai jas safari. Aku berpikir apabila dia memasang fotonya di daerah pelacuran, mungkin dia
akan memakai gincu, bedak tebal, rok mini dan stoking jaring. Sangat mengesankan.

Tak bisa dipungkiri bahwa semua kegiatan “menjual diri” diatas memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dan untuk menjadi caleg, biasanya harus menyetorkan sejumlah uang ke partai pengusungnya. Besar setoran ini akan menentukan nomor urut caleg, semakin tinggi setoran maka dia berkesempatan memiliki nomor urut teratas. Belum lagi biaya untuk pembuatan kaos partai, stiker, dan kegiatan marketing lain seperti perbaikan jalan kampung, pembuatan mushola, dll. Ketika Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa caleg yang terpilih adalah caleg dengan suara terbanyak, bukan berdasarkan nomor urut maka caleg yang sudah menyetor uang banyak ke partai hanya bisa meratapi nasib. Caleg bego yang apes.

Mendekati hari pencontrengan, biasanya aka nada “serangan fajar” yaitu kegiatan bagi-bagi uang atau sembako. Sikap masyarakat pun beragam. Kebanyakan menerima dan memilih si pemberi. Ada yang menerima tetapi tidak memilih si pemberi karena ingin uangnya saja. Terakhir ada juga yang tidak menerima uang. Sikap yang sangat langka, tetapi inilah sikap yang ideal. Hati tak bisa dibeli. Sebenarnya para pelaku money politics ini sedang berusaha membuat pondasi yang kokoh untuk pabrik korupsinya nanti. Ironis, kebanyakan dari kita membantu karena sudah menerima uangnya. Seperti investasi, uang yang ditanam harus tumbuh dan berbunga. Maka sekuat tenaga dia akan berusaha mengembalikan modal dan melipatgandakannya. Rakyat? Urusan belakangan.

Ada uang abang disayang, nggak ada uang abang ditendang. Sepertinya pemeo ini sekarang bukan hanya milik cewek matre.

Baca Selengkapnya....

Saturday, 7 February 2009

Bodoh VS Pintar

KENYATAAN:

1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar. Walhasil Boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang pintar untuk membuatnya.
5. Orang bodoh biasanya
jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada diatas.
6. Orang bodoh berpikir pendek, untuk memutuskan sesuatu dipikirkan panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi staffnya orang bodoh.
7. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar demo, walhasil orang-orang pintar “meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
8. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
9. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa dijadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
10. Bill Gates (Microsoft), Dell, Hendri (Ford), Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong (BCA group). Adalah orang-orang bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN:

1. Jadi mending jadi orang pinter atau orang bodoh??
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh??
3. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh??

KESIMPULAN:

1. Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
2. Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.
3. Kata kunci nya adalah “resiko” dan “berusaha”, karena orang bodoh berpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut, dan mengabdi pada orang bodoh.

Sumber: forum www.kaskus.us

Baca Selengkapnya....

Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Energy News. Powered by Blogger