Monday, 2 March 2009

Sistem Manajemen

Sebenarnya sistem dan manajemen tipe apa sih yang cocok buat perusahaan kita? Pertanyaan ini selalu timbul dalam benak para pengambil keputusan. Untuk menjawabnya, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk menilai mana yang lebih baik melainkan sekedar refreshing dan berbagi sambil mengingat apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Pada awal 80-an muncul istilah TQC (Total Quality Control) yang dengan cepat diadaptasi oleh beberapa perusahaan di Indonesia. Salah satunya adalah Astra. Meskipun QC/TQC ini adalah konsep yang datangnya dari Amerika dan dipelopori oleh Deming, tetapi justru Jepang yang menyerap dan menerapkan dalam beberapa perusahaannya terutama pada perusahaan otomotif disana.

Di Astra, TQC menjadi ATQC dengan tambahan Astra di depannya. Prinsipnya sih sama aja, tetap PDCA (Plan-Do-Check-Action). ATQC menjadi sebuah sistem yang bekerja dengan sangat baik bila diterapkan untuk
suatu pekerjaan yang measurable, misal di engineering, technical, delivery..tapi sangat susah diterapkan pada pekerjaan yang banyak ditentukan oleh faktor luar seperti finance dan accounting. Terlihat dari hasil konvensi TQC, dimana team technical selalu menjadi juara. Sistem ini cocok diterapkan untuk kelompok kerja kecil, dan sebagai kelanjutan dari TQC adalah Kaizen. Seiring berjalannya waktu, gema TQC seakan surut. Awal tahun 90-an muncul BPR (Business Process Re-engineering), proses end-to-end. Prinsipnya adalah semua dilihat dari flow proses awal sampai akhir kemudian dilakukan penyederhanaan di tiap proses yang terjadi. Sebagai penunjang, dibuat form dan rule baru jika dirasa perlu untuk dilakukan. Di dalam perkembangannya seringkali setiap bagian membuat aturan sendiri sesuai kondisi da situasinya. Pada akhirnya hal ini aka semakin membuat ruwet suatu alur proses yang sudah terbentuk. Menurut penelitian, kurang dari 10% perusahaan yang menerapkan BPR bisa berhasil, itupun masih diragukan ke-efektifitasannya sehingga lenyaplah BPR ditelan jaman.

Balanced Scorecard pun berkibar untuk menjadi sistem yang digunakan manajemen dengan melihat Business Strategy, Internal maupun External faktor, Organization dan Technology/Structure dengan melihat hubungan tiap bagian dan memasang bobot yang berkaitan disertai target tertentu. Hal yang perlu diwapadai adalah faktor PEST (Politic,Economy,Sosial,Technology) yang sangat sulit dikendalikan di negeri ini. Sedangkan untuk menentukan bobot, datanya susah dicari terutama data dari market, maklum untuk mencari data market, orang Indonesia cenderung memanipulasi daripada repot. Pada akhirnya SWOT analysis analysis merupakan solusi efektif dan efisien. Setelah itu, muncul Six Sigma dengan cara yang sedikit ekstrim dengan hanya mengijinkan beberapa kesalahan dari sekian juta proses. Bagi perusahaan yang ingin menerapkannya, harus memberikan training yang begitu padat dan memusingkan, selain itu untuk mendapatkan sertifikatnya saja butuh investment yang sangat besar. Tapi banyak perusahaan berbondong-bondong ingin menerapkan sistem ini karena melihat kisah sukses Motorola dan GE yang cepat melesat dengan mengembangkan sistem ini.

Seiring dengan semakin ketatnya persaingan di industri pertambangan, Pama juga selalu berusaha melakukan improvement di sistem manajemennya untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Bahkan hampir semua sistem manajemen diatas sudah dicoba diterapkan. Tetapi pada akhirnya Pama harus dapat menemukan caranya sendiri, yang paling sesuai dengan situasi dan kondisinya. Mengembangkan sesuatu yang benar-benar menjadi ciri khas Pama dan tidak dipunyai oleh perusahaan lain.

0 comments:

Post a Comment


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Energy News. Powered by Blogger